May 7, 2021

Jagat Olahraga

Berita Olahraga, Berita Bola, Terbaik dan Terpercaya, Berita Politik, Hukum, Sosial, Budaya Seputar Nasional dan Internasional.

Myanmar incrissis

Myanmar: Kondisi Darurat Diumumkan, Militer Telah Melakukan Kudeta Negara

Departemen Militer di negara Myanmar telah menguasai negara tersebut dan mengumumkan Negara dalam keadaan darurat selama setahun.

Jagatolahraga.com – Negara Myanmar dipimpin oleh seorang wanita bernama Aung San Suu Kyi, yang berkuasa setelah memenangkan pemilihan resmi dan adil sesuai dengan aturan yang berlaku di Myanmar, dan pada saat ini dia telah dicopot dari kekuasaannya, ditangkap dan sekarang tentara berpatroli di jalan-jalan dan jam malam telah diberlakukan.

Inggris dan AS, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah mengkritik dan menentang tindakan perebutan kekuasaan oleh militer. Dalam sebuah pernyataan, Aung San Suu Kyi mendesak para pendukungnya untuk “tidak menerima ini” dan “memprotes kudeta”.

Bagaimana situasi saat ini di Myanmar?

Tentara terlihat memblokir jalan menjadi pemandangan umum di negara tersebut.

Pada dini hari Senin 1 Februari, stasiun TV resmi militer mengatakan kekuasaan telah diserahkan, dan panglima militer, Min Aung Hlaing, sekarang bertanggung jawab atas negara.

Aung San Suu Kyi dan pemimpin lain dari partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang berkuasa ditangkap dalam serangkaian penggerebekan. Tidak jelas di mana mereka ditahan.

Tentara berpatroli di jalan-jalan dan memblokir jalan di ibu kota, Nay Pyi Taw, dan kota utama, Yangon. Tidak ada tindakan kekerasaan sampai saat ini yang dilaporkan.

Komunikasi seperti stasiun TV internasional, internet, dan layanan telepon telah berhenti bekerja atau terganggu. Layanan, seperti bank, juga telah ditutup. Jam malam sekarang dilaporkan berlaku dari jam 8 malam waktu setempat hingga jam 6 pagi.

Seseorang warga yang tinggal di Yangon mengatakan kepada kantor berita Reuters: “Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya agak takut.”

Apa itu ‘kudeta’?

Ini terjadi ketika orang secara ilegal mengambil tindakan untuk menggulingkan pemerintah suatu negara – dan sering menggunakan kekerasan atau ancaman untuk mewujudkannya. Mereka biasanya melakukan ini karena mereka tidak senang dengan bagaimana negara dijalankan dan ingin mengambil alih kekuasaan sendiri. Kudeta berasal dari frase Perancis coup d’état yang artinya: pemogokan terhadap negara.

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Pengambilalihan oleh militer tersebut diperkirakan sebagai hasil pemilihan umum negara itu baru-baru ini, yang berlangsung pada November tahun lalu. Hasil pemilihan menunjukkan bahwa partai Aung San Suu Kyi – partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) – menang banyak, memperoleh 83% dari kursi yang tersedia di pemerintahan.

Partai oposisi, yang didukung oleh militer – yang disebut Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan – hanya memenangkan 33 kursi dari kemungkinan 476 kursi. Namun, pihak militer menolak menerima hasil tersebut dan mengklaim telah menemukan jutaan kesalahan suara.

Ada sedikit bukti yang mendukung tuduhan ini, dan komisi pemilihan resmi negara telah menolaknya, dengan mengatakan pemilihan itu “dilakukan secara adil dan bebas”.

Fakta Tentang Negara Myanmar

  • Myanmar, juga dikenal sebagai Burma, adalah sebuah negara di Asia Tenggara yang berbatasan dengan Bangladesh, India, dan Thailand.
  • Negara Myanmar memiliki populasi sekitar 53 juta orang.
  • Bahasa utama yang digunakan adalah bahasa Burma.
  • Agama paling populer di negara ini adalah Budha.

Untuk waktu yang cukup lama militer telah memerintah di Myanmar – selama hampir 50 tahun hingga 2011 ketika negara tersebut mulai bergerak ke sistem yang lebih demokratis. Artinya, orang-orang di negara tersebut dapat memilih untuk memutuskan siapa yang ingin mereka perintah.

Pada 2015, Liga Nasional untuk Demokrasi – dipimpin oleh Aung San Suu Kyi – memenangkan cukup kursi untuk membentuk pemerintahan yang demokratis. Pemilu pada November merupakan pemilu kedua di Myanmar sejak berakhirnya kekuasaan militer sejak 2011.

Militer sekarang mengatakan akan menggunakan kekuatan daruratnya untuk mengatur pemungutan suara baru.

Aung San Suu Kyi

Dia adalah sosok wanita yang dicintai oleh banyak orang sebagai suar demokrasi di seluruh dunia di Negara tersebut, dan telah menerima Penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1991.

Dia dibebaskan pada Tahun 2010, dan pada November 2015 dia memimpin NLD meraih kemenangan telak dalam pemilu pertama yang diperebutkan secara terbuka di Myanmar selama 25 tahun.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kepemimpinan Aung San Suu Kyi telah banyak dikritik karena perlakuannya terhadap minoritas Rohingya yang sebagian besar Muslim di negara tersebut. Ratusan ribu dari mereka telah meninggalkan negara itu dan mereka yang tersisa diperlakukan dengan sangat buruk.

Dengan Kondisi militer sekarang dalam kendali penuh atas Myanmar saat ini, banyak orang khawatir jika keadaan Negara tersebut bisa menjadi lebih buruk.

Minoritas Rohingya, dan apa arti kudeta bagi mereka

Rohingya adalah salah satu dari banyak kelompok etnis* di Myanmar, dan Muslim Rohingya mewakili persentase Muslim terbesar di negara tersebut.

Mereka memiliki bahasa dan budaya sendiri dan mengatakan bahwa mereka adalah keturunan para pedagang dari Negara Arab dan kelompok lain yang telah berada di wilayah tersebut selama beberapa generasi.

*Kelompok etnis adalah sekelompok orang yang berbagi, atau berasal dari, atau sekelompok orang yang mempunyai latar belakang budaya yang sama.

Namun, etnis Rohingya tidak diperlakukan sama seperti warga lainnya yang tinggal di Myanmar.

Faktanya pemerintah Myanmar telah memperlakukan mereka dengan sangat buruk selama bertahun-tahun, dan pemerintah Myanmar dibawah kekuasaan Aung San Suu Kyi tidak mengakui mereka sebagai warga negara yang layak, sehingga mereka tidak dapat mengakses perawatan medis, pendidikan dan layanan dasar yang sama dengan warga lainnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggambarkan mereka sebagai salah satu orang yang paling teraniaya di dunia.

persecuted, persekusi, teraniaya, maksud arti kata disisni adalah diperlakukan dengan sangat buruk seringkali atas dasar karena agama, ras atau kepercayaan politik.

Pada 25 Agustus 2017, kekerasan dan bentrokan terjadi antara tentara Myanmar dengan pejuang Rohingya, setelah pejuang Rohingya menyerang balik polisi dan tentara pemerintah Myanmar.

Ratusan warga Rohingya tewas terbunuh dan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Sebuah badan amal bernama Medecins Sans Frontieres memperkirakan sekitar 600.000 orang Rohingya meninggalkan Myanmar ke negara tetangga Bangladesh setelah pertempuran itu terjadi.

Pejabat tinggi hak asasi manusia PBB mengatakan bahwa menurutnya cara bagaimana orang Rohingya diperlakukan oleh Myanmar menggambarkan bahwa bagaimana Pemerintah Myanmar berusaha untuk menyingkirkan mereka dari Negara nya.

Meskipun Aung San Suu Kyi tidak secara langsung mengontrol militer, dia telah dikritik oleh banyak orang karena tidak berbuat cukup banyak untuk mencegah apa yang terjadi atau karena meminta pertanggungjawaban militer Myanmar atas tuduhan pelecehan terhadap orang-orang Rohingya.

Beberapa orang khawatir dengan militer yang sekarang berkuasa di Myanmar, keadaan akan menjadi lebih buruk bagi orang-orang Rohingya yang masih berada di negara itu.

Bagaimana Reaksi Para Pemimpin Dunia Lainnya?

Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki memberikan pengarahan berita tentang tanggapan AS terhadap apa yang terjadi di Myanmar

Para pemimpin dunia dan pakar hak asasi manusia dengan cepat mengutuk militer atas tindakan mereka.

Pemerintah Amerika Serikat mengatakan: “menentang segala upaya untuk mengubah hasil pemilu yang baru-baru ini terjadi di Negara Myanmar”.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyerukan pembebasan Aung San Suu Kyi dan semua yang ditangkap, dan mengatakan AS “mendukung rakyat Burma dalam aspirasi mereka untuk ber-demokrasi”.

Di Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson mengutuk kudeta dan “pemenjaraan yang melanggar hukum” Aung San Suu Kyi.


%d bloggers like this: