June 14, 2021

Jagat Olahraga

Berita Olahraga, Berita Bola, Terbaik dan Terpercaya, Berita Politik, Hukum, Sosial, Budaya Seputar Nasional dan Internasional.

Jagat Olahraga

Photo Ilustrasi. Kemenlu Retno Marsudi "Jadi kita minta otoritas RRT untuk dilakukan penyelidikan, dan kedua, kita juga akan berusaha untuk melakukan penyelidikan dan mendapatkan klarifikasi apakah pelarungan sudah dilakukan sesuai standar ketentuan ILO," Edited by ©Jagat Olahraga

Kemenlu Panggil Duta Besar China Atas Kematian Awak Indonesia

Jagat Olahraga – Kementrian Luar Negeri di Jakarta memanggil duta besar China pada hari Kamis kemarin atas kematian empat orang Indonesia dan perlakuan terhadap orang lain yang diduga bekerja dalam kondisi yang keras di atas kapal-kapal nelayan Cina sejak Desember 2019.

Pemanggilan tersebut mengikuti laporan media Korea Selatan, yang menuduh bahwa anggota kru Indonesia kadang-kadang dipaksa bekerja 30 jam sambil berdiri dan hanya diberi waktu enam jam untuk makan dan tidur sebelum melanjutkan tugas mereka.

Berita Terkait: Video Jenazah ABK Dibuang Kelaut Oleh Crew Kapal China, Long Xing

Seorang anggota kru Indonesia yang diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi Korea Selatan mengatakan, jenazah tiga orang yang tewas antara Desember dan Maret dibuang ke laut meskipun ada rincian dalam kontrak mereka yang meminta untuk kremasi.

“Pemerintah Indonesia menyatakan keprihatinan tentang kondisi di kapal tersebut, yang diduga telah menyebabkan kematian empat awak Indonesia, tiga di laut dan satu lagi di rumah sakit di Busan,” Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan kepada wartawan dalam konferensi berita online.

Retno mengatakan duta besar Tiongkok untuk Indonesia, Xiao Xian, meyakinkannya bahwa pemerintah di Beijing akan memastikan bahwa para majikan memenuhi tanggung jawab mereka.

Menurut Retno, berdasarkan penelusuran KBRI Seoul, kedua kapal tersebut membawa 46 ABK Indonesia untuk berlabuh di Busan. Namun, ketika di Busan, kedua kapal sempat tertahan karena membawa 35 ABK Indonesia yang terdaftar dari Kapal Long Xin 629 dan Long Xin 606.

“Artinya, 35 ABK WNI tersebut tidak terdaftar di kapal Long Xin 605 dan Tian Yu 8, dan mereka dianggap tidak sebagai ABK oleh pelabuhan otoritas di Busan, namun dihitung sebagai penumpang,” ujar dia.

Kendati demikian, Retno mengatakan, sebagian dari 46 ABK Indonesia sudah dipulangkan ke Indonesia sejak 24 April yaitu 8 orang di Kapal Long Xin 605 dan 3 orang di Kapal Tian Yu. Selain itu, 18 orang ABK dari Kapal Long Xin 606 kembali ke Tanah Air sejak 3 Mei 2020. “Sisanya masih berproses di imigrasi Korea untuk dipulangkan ke Indonesia,” ucap dia.

Retno mengatakan dia bertanya apakah penguburan di laut memenuhi standar Organisasi Buruh Internasional dan diyakinkan bahwa China telah mengikuti protokol yang tepat untuk melindungi kesehatan anggota kru lainnya.

“Keputusan untuk [menjatuhkan jenazah ke laut] diambil oleh kapten kapal karena kematiannya disebabkan oleh penyakit menular dan ini disetujui oleh anggota awak lainnya,” kata Retno.

Pejabat kedutaan Cina di Jakarta tidak segera menanggapi permintaan komentar dari BenarNews, layanan berita online yang berafiliasi dengan RFA.

Retno mengatakan keempat awak kapal yang meninggal telah didaftarkan ke kapal nelayan China Long Xin 629. Dua awak kapal tewas di kapal itu pada bulan Desember, sedangkan seorang lainnya meninggal di rumah sakit Korea Selatan pada 27 April dan yang keempat dipindahkan ke perahu lain dan mati pada bulan Maret sebelum bisa mencapai pelabuhan.

Pemerintah Indonesia memulangkan 11 anggota awak yang selamat dan akan membawa pulang 14 lainnya minggu ini, menurut Retno. Banyak dari mereka berakhir di kota pelabuhan Busan, Korea Selatan, setelah kontrak mereka berakhir.

Ari Purboyo, ketua Serikat Pekerja Perikanan Indonesia di Korea Selatan, mengatakan setiap anggota kru Indonesia dibayar sekitar AS $ 120 (1,8 juta rupiah) untuk kerja selama 11 bulan.

Kondisi Yang ‘Suram’

Sebuah video yang disiarkan oleh stasiun Korea Selatan MBC menunjukkan mayat salah satu orang Indonesia yang dibuang ke laut setelah ritual doa.

“Pertama-tama dia mengalami kram kaki, kemudian kakinya bengkak. Kemudian penyakit itu menyebar ke dadanya dan dia kesulitan bernapas, ”kata anggota kru Indonesia yang namanya dirahasiakan, menggambarkan kondisi seorang rekan senegaranya yang diidentifikasi sebagai Ari, 24, sebelum dia meninggal.

Para pekerja Indonesia dipaksa untuk minum air laut yang diolah sementara anggota kru Tiongkok minum air botol, katanya.

Mohammad Abdi Suhufan, yang mengepalai LSM Destructive Fishing Watch Indonesia, mengatakan kasus ini memunculkan masalah di industri perikanan.

“Pemerintah perlu meluncurkan kampanye pendidikan untuk mencegah warga menjadi korban kerja paksa dan perdagangan manusia,” katanya. “Informasi tentang kondisi bekerja di kapal penangkap ikan harus diumumkan kepada publik sehingga para calon pekerja sadar akan risikonya.”

Sementara itu, Wahyu Susilo, direktur eksekutif kelompok advokasi tenaga kerja Indonesia Migrant Care, mengatakan pekerja di sektor kelautan dan perikanan kurang memiliki perlindungan dan rentan terhadap eksploitasi.

“Kondisi yang dihadapi pekerja migran Indonesia, terutama yang bekerja di sektor perikanan, terlihat suram,” kata Wahyu.

“Apa yang dialami awak kapal Indonesia ini adalah pelanggaran terhadap hak asasi mereka. Mereka dirampok kebebasannya dengan bekerja di lingkungan yang tidak pantas. Mereka dirampas haknya atas informasi dan, pada akhirnya, mereka dirampas hak mereka untuk hidup, ”katanya dalam sebuah pernyataan, menurut Jakarta Post.

Sebuah studi yang dirilis pada Desember 2019 oleh Greenpeace Asia Tenggara dan Serikat Pekerja Migran Indonesia mengungkapkan bahwa 34 nelayan migran Indonesia yang bekerja di 13 kapal nelayan asing yang dicurigai melaporkan kondisi yang tidak memuaskan.

Keluhan utama termasuk penipuan, pemotongan upah, lembur berlebihan dan pelecehan fisik dan seksual, kata laporan itu.

Nelayan migran Indonesia dipotong gaji mereka untuk membayar uang jaminan dan biaya pemrosesan selama enam hingga delapan bulan pertama dari pekerjaan mereka, memaksa mereka untuk bekerja dengan jam-jam kerja yang berlebihan dengan sedikit atau pun sama sekali tanpa bayaran sepeserpun, katanya.

“Laporan yang mendokumentasikan pengalaman para nelayan migran Indonesia dan Filipina mengungkapkan pola umum selama proses rekrutmen, kondisi kerja yang mengerikan di atas kapal, serta ketidakpastian pemulangan ketika operator kapal tertangkap melanggar undang-undang penangkapan ikan di negara-negara asing,” katanya.


Sponsored by:

Klik Gambar dibawah ini untuk meraih kesempatan menangkan hadiah jutaan rupiah!!!

Macaubet adalah situs judi dan taruhan online yang selalu berkomitmen memberikan pelayanan terbaik untuk setiap membernya. Macaubet sudah berdiri sejak tahun 2003 di indonesia dan telah terpercaya sebagai situs judi terbaik dan terpercaya.


%d bloggers like this: